Bukti-bukti menunjukkan laporan Greenpeace memuat kutipan yang
sebetulnya tidak ada.</b>
AUDITOR independen International Trade Strategies Global Asia Pasific
(ITS Global) menilai Greenpeace telah merekayasa laporan. Hal itu
terkait dengan laporan tentang perusakan lingkungan yang dituduhkan
kepada perusahaan Asia Pulp and Paper (APP).
"Bukti-bukti menunjukkan laporan Greenpeace memuat kutipan yang
sebetulnya tidak ada. Peta-peta yang menunjukkan konsesi juga tidak
ada," ujar CEO of ITS Global yang berbasis di Melbourne Australia,
Alan Oxley, seperti yang dikutip dari laman daring Business Wire.
Oxley menuturkan pihaknya meneliti laporan lembaga swadaya masyarakat
tersebut yang dilansir Juli 2010. Saat itu, Greenpeace menerbitkan
laporan bertajuk `How Sinar Mas is Pulping the Planet'. Laporan itu
menyudutkan APP dan Grup Sinar Mas sehingga produk-produk mereka
ditolak berbagai konsumen besar mereka.
Dalam penelitiannya, ITS Global menganalisis 72 pernyataan Greenpeace
yang menyerang APP termasuk lebih dari 300 catatan kaki dan sekitar
100 referensi. Hasilnya, laporan Greenpeace memuat kutipan yang
sebetulnya tidak ada. Selain itu, peta- peta yang menunjukkan konsesi
juga sebetulnya tidak ada. Menurut Oxley, laporan Greenpeace itu
menyesatkan dan informasi yang mendukung tudingan bahwa APP merambah
hutan alam juga fiktif.
"Klaim tentang ekspansi perusahaan besar-besaran secara rahasia di
Indonesia didasarkan pada informasi fiktif. Dan informasi yang
mendukung dugaan bahwa perusahaan terlibat dalam praktik kehutanan
ilegal pada lahan gambut adalah tidak berdasar maupun merupakan
kesalahan yang sangat serius," tegas Oxley.
Data perusahaan
Menanggapi tudingan ITS Global tersebut, juru kampanye hutan
Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar mengaku pihaknya menggunakan
data internal dari sumber di perusahaan kertas tersebut. Selain itu,
Greenpeace memakai data pemerintah sebagai regulator. Menurutnya,
Greenpeace siap jika APP ingin membawa laporan itu ke jalur hukum.
"Data internal itu tidak mau diakui APP, padahal itu merupakan data
perusahaan mereka yang tidak dapat di-publish."
Hal sama ditegaskan Greenpeace Southeast Asia Media Campaigner Hikmat
Soeritanuwijaya. Dia menyatakan ITS Global bukanlah auditor
independen. Perusahaan Alan Oxley ini adalah perusahaan konsultan
humas yang disewa perusahaan internasional yang merusak lingkungan.
"Kami siap. Seharusnya memang kalau merasa tidak benar dengan laporan
itu, bawa ke jalur hukum. Data kami itu sudah melalui pemeriksaan
legal," tandasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia Haryadi B Sukamdani menganggap tuduhan Greenpeace terhadap
sejumlah perusahaan besar Indonesia akan berdampak pada melorotnya
pendapatan negara. Dia menilai isu miring ini berasal dari
negara-negara maju. Soalnya, isu lingkungan kerap dijadikan negara
maju untuk menekan negara-negara berkembang.
"Mereka (negara maju) mungkin juga punya preferensi sendiri. Sama
halnya seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang dipakai
untuk tujuan bisnis tertentu. Yang jelas, ini masalah perdagangan dan
kita pasti terganggu," kata dia.
Kendati demikian, Haryadi mengusulkan agar tudingan miring Greenpeace
terhadap sejumlah perusahaan Indonesia ditindaklanjuti. "Pemerintah
harus mengecek."
Sebelumnya Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan Indonesia tidak
ingin diperlakukan tidak adil akibat tudingan perusakan lingkungan.
Menurutnya, pemerintah akan aktif mengklarifikasi soal tudingan
kerusakan lingkungan ke dunia internasional. "Ini jangan sampai
menjadi taktik dagang untuk kepentingan negara maju." (Reuters/E- 6)
--
Sent from my mobile device
0 Response to "Laporan Greenpeace Dianggap Rekayasa"